sang penyemangat!
Posted by irwan pada Oktober 9, 2008
Kemarin, seorang teman saya bernama CHIMUT uring-uringan. Soalnya, dia merasa gagal dalam menyemangati dan mempertahankan cinta teman saya bernama NIE.
Si CHIMUT tak habis pikir. mengapa NIe bisa tergoda dengan cowok lain, padahal sudah lama menjalani relationship. dari mahasiswa, fresh graduate hingga menjadi graduate with new experience.
Rupanya, NIE sedikit tergoda karena kenyamanan dari cowok yg bernama anton, seorang bandot tua yg mapan, PNS di tempat yg basah akan korupsi. NIE sudah mulai mencoba berpaling dari chimut dengan mengendap-ngendap jalan dengan ANTON. hingga letusan kobohongan terungkap. dan hanya pertengkaran yang terjadi terus dan tak berhenti. inilah sebenarnya yg diharapkan NIE untuk lepas dari chimut.
chimut memohon-mohon untuk tetap menjaga relationship kembali baik tetapi apalah daya, chimut hanya menjadi penyemangat yg tak berarti lg buat NIE.
padahal chimut merasa inilah kesempatan dia menyemangati NIE agar mau menerima saran-sarannya.
“Ini ati-ati, lho! Di sana juga! banyak biawak dan buaya, ada cowok yg punya niat ke kamu,” begitu kata chimut.
“Tapi, ini hanya posesif kamu aja? gue bosen sama lo yg selalu suudzon ria” ujar NIE berkilah.
“Elo ini. kejadian kemarin saja sebenarnya sudah membuktikan ada ketidak beresan, ada yg masih lo tutupin dan setiap mengawalinya pasti lo marah duluan untuk menutupi kesalahan diri lo sendiri. ” balas chimut lagi.
Hmm… Kalau saya hitung-hitung, chimut selalu menjadi penyemangat setia NIE sejak dulu.
Dulu, saya pernah jadi si Penyemangat setia. Saya lakukan itu ke pasangan saya ana. Saya bangunkan kalau dia ketiduran sampai lupa kuliah, saya antarkan dia kemanapun saya bisa, saya beritahu tugas-tugas, saya pinjamkan buku untuk membuat tugas, saya ajari membuat tugas, saya ingatkan batas waktu pengumpulan tugas.saya temani waktu sakit, saya cegah untuk bepergian jika dia sedang sakit.
Hasilnya? Tetap saja dia tak dengarkan ucapan saya! Bahkan, ana kembali mengulang kesalahan klasiknya, yakni menjadi pengarang cerita kebohongan. hingga pertengkaran kembali terjadi.
Apa ada proses yang saya lewatkan? Rasanya tidak.
Hanya saja, mungkin porsinya terlalu banyak. Dan si Penyemangat pun berubah menjadi si Pengawas.
“Kamu harus ini!”
“Jangan lupa itu!”
“Eits, sudah anu?”
Mungkin, yang NIE dan ANA butuhkan hanyalah sedikit kepercayaan bahwa mereka bisa melakukannya sendiri. Kalau tak berhasil? Yah, paling tidak itu menjadi pengalaman mereka sendiri.
Jadi, setelah si ANA gagal di dalam relationshipnya , saya berhenti menjadi si Penyemangat. Alasannya sederhana, saya patah hati. Semua harapan-harapan saya musnah. Rasanya tak perlu lagi saya bersemangat.
Tapi, itu sih dulu. Sekarang saya sudah punya sasaran baru untuk saya semangati. Semoga kali ini porsinya tidak terlalu banyak.
towip berkata
heheheheheheheeehehehehehehehe
Ceritanya Imut, kaya yang buatnya. Item Mutlak.hehehehe
So keep in writing,
So Sweet lah
Aji berkata
wawawa..
tulisan yang bagus bro
hihi
keep blogging!